Jumat, 15 April 2016


Assalamualaikum Wr.Wb

Apa kabar para pembaca yang selalu diberkahi Allah SWT?.  Disini saya akan berbagi cerita yang berjudul "Kaulah Cahaya Hidupku" karangan Rizka Dwi Puspita Sari. Semoga Anda sekalian terhibur dengan cerita tersebut.  Selamat membaca.......


Tema: Kisah Hijrah Menuju Syar’i








By:Rizka
 



Pada suatu hari hiduplah seorang perempuan cantik dengan paras memesona. 25 tahun itulah usia wanita itu. Dia adalah seorang muslim. Karena dia hidup di lingkungan yang tidak begitu menganggap sebuah agama itu penting yang membuatnya menutup diri terhadap agama.
            Dari kecil wanita itu berprofesi sebagai pencopet. Mungkin baginya copet sudah mendarah daging di hidupnya. Wanita yang memiliki nama Anatasya itu sehari-hari tinggal di bawah jembatan bersama anak jalanan yang lainnya. Walaupun Anatasya perempuan yang cantik yang akan membuat para kaum Adam akan bertekuk lutut setelah melihat kecantikan Anatasya. Tapi para pria di tempat tinggalnya tidak berani macam-macam dengan Anatasya karena Anatasya dikenal sebagai wanita yang baik, tegas dan mereka saling menghormati satu sama lain.
            Pagi sampai habis isya’, Tasya menjalankan profesinya itu demi sesuap nasi. Tak kenal lelah untuk bisa menghidupi ibunya yang telah merawatya dari kecil dengan penuh kasih sayang, walaupun sebenarnya Anatasya bukanlah anak kandung ibu Fatimah. Tapi Anatasya telah menganggap Ibu Fatimah sebagai ibunya sendiri. Hal tersebut membuat Anatasya merasa cukup bahagia tinggal bersama ibunya. Tetapi akhir-akhir ini ibunya sedang sakit-sakitan. Oleh sebab itulah yang menjadi alasan utama Anatasya tidak dapat menghentikan aksinya mencopet. Hanya demi pengobatan ibunya.
Setiap kali Anatasya memberikan obat kepada ibunya. Sering kali ibunya menanyakan dari mana mendapatkan uang untuk membeli obat untuk ibunya. Untuk menjawab pertanyaan ibunya, Anatasya sering kali harus berbohong agar ibunya tidak marah dan mau menerima obatnya.
 Pagi-pagi Anatasya memulai aksinya mencopet. Biasanya Anatasya melakukan aksinya di tempat keramaian seperti: pasar malam, pasar tradisional, terminal dan di dalam alat transportasi. Tak jarang aksi Anatasya itu hampir saja membuatnya tertangkap oleh amukan masa. Tetapi lagi-lagi keberuntungan masih memihak padanya sehingga Anatasya bisa selamat dari amukan masa.
            Hasil dari profesi copet menurut Anatasya sudah cukup untuk memenuhi kehidupannya dan pengobatan untuk ibunya. Setelah berhasil memperoleh beberapa dompet yang berisikan tumpukan uang, setelah itu Anatasya mengambil uangnya lalu membuang dompetnya ke tong sampah. Sering kali setelah mendapatkan uang lebih, pasti Anatasya selalu membagikan uang itu kepada para pengemis yang membutuhkan.
            Pada suatu ketika, setelah Anatasya pulang dari mencopet, betapa terkejutnya melihat ibunya tergampar tak berdaya di jubin yang begitu dingin. Setelah memeriksa denyut nadi ibunya, Anatasya merasa sangat terpukul karena ternyata ibunya sudah tiada. Betapa hatinya hancur ketika harus melihat kini dia akan menjalani hidup sebatang kara di bumi yang keras ini. Dia seakan tidak sanggup membayangkannya. Tetapi itulah realita yang akan dijalani Anatasya.
Setelah pemakaman ibunya selesai dikebumikan. Anatasya seakan hidup terombang-ambing tak ada tujuan yang pasti. Dia ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya untuk melepaskan penat di dada tapi menurut dia itu percuma saja. Karena masalahnya tetap saja ada. Dia ingin sekali keluar dari kehampaan hidupnya. Tetapi ia tidak bisa. Akhirnya ia sadar kalau hidup ini akan terus berjalan dan mau tidak mau Anatasya harus menjalani hidupnya yang kini terasa hampa.
 Karena Anatasya harus hidup dan harus makan maka Anatasya masih saja menjalani profesinya sebagai pencopet untuk penyambung hidupnya. Tetapi kini Anatasya terlihat berbeda yaitu kini ia lebih menunjukkan sikap yang dingin kepada siapapun dan sekarang ia jarang tersenyum lagi. Akibat perubahan sikap Anatasya membuat Raka, teman seprofesi copet dengan Anatasya merasa kasihan terhadap temannya itu. Dia selalu menghibur Anatasya tetapi Ia tidak berhasil. Malah Raka disuruh menjauhi dirinya. Tetapi itu semua tidak membuat Raka patah semangat. Ia akan selalu menjaga Anatasya walaupun dari jauh.
Pada suatu hari, di tengah-tengah teriknya matahari Anatasya memulai aksinya dan korban aksinya tersebut adalah seorang ibu-ibu kaya raya dengan gamis dan jilbab yang dikenakannya yang menunjukkan kalau ibu itu adalah hamba Allah yang taat. Tanpa memilih mangsa, akhirnya ibu itu menjadi korban selanjutnya Anatasya. Dengan lihai Anatasya menyambar tas yang dibawa ibu itu dan langsung pergi. Ibu itu berteriak minta tolong, tetapi tidak ada orang yang mendengar karena saat itu suasana tempat itu sepi dan tidak ada orang satu pun.
Setelah mendapatkan tas ibu itu tadi, dengan segera Anatasya membuka tas itu perlahan-lahan di rumahnya. Betapa terkejutnya Anatasya melihat apa yang ada di dalam tas itu.  Anatasya pun mengeluarkan barang itu perlahan-lahan. Tak disangka tas itu hanya berisi Al-Quran dan mukenah saja. Tidak ada uang sepersen pun. Karena Anatasya merasa jengkel lalu Al-Quran dan mukenah itu diletakkan begitu saja di atas kasur. Setelah itu Anatasya beranjak dari tempat tidur.
Tetapi sesaat Anatasya ingin pergi, langkah kakinya terhentikan tiba-tiba. Entah mengapa hatinya ingin sekali membuka Al-Quran itu. Karena menuruti permintaan hatinya itu, Anatasya kembali menghampiri Al-Quran yang di letakkan di kasur. Selembar demi selembar Anatasya membuka-buka halaman kitab suci Al-Quran tersebut. Karena Anatasya belum bisa membaca ayat suci Al-Quran, Ia pun hanya membaca terjemahannya saja. Betapa tergugah hatinya ketika membaca sebuah ayat suci Al-Quran pada surat Ar-Ra’d : 28 yang insyaallah artinya “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”. Mungkin itulah yang dicari Anatasya selama ini yaitu kedamaian pada hatinya dan hidupnya. Tiba-tiba tidak ada hujan atau apapun, entah mengapa setelah membaca Al-Quran hatinya terasa lebih tenang, damai sekarang.
Anatasya pun bertanya-tanya dalam dirinya sendiri, “Apakah tujuan hidupnya sekarang?. Apakah mencari kesenangan hidup semata sesuai kehendaknya sendiri ataukah kedamaian, ketenangan hati yang ingin ia cari?”. Ia pun memilih kedamaian, ketenangan hati yang sedang ia cari. Tetapi ia bingung dari mana ia mencari kedamaian itu.
“Menurut Al-Quran yang barusan ia baca dengan mengingat Allah maka hati akan tentram. Tetapi bagaimana cara agar Anatasya selalu mengingat Allah SWT?. Dan apa yang harus Anatasya lakukan agar Anatasya selalu mengingat Allah SWT?. Tetapi apakah Allah SWT masih mau menerima hamba seperti Anatasya yang telah berlumur dosa ini?. Apa yang harus aku lakukan sekarang?. Aku serba bingung”, kata Anatasya dalam kebingungannya.
Anatasya pun sejenak terdiam. Beberapa saat kemudian, Anatasya pun mendapat ide cemerlang. Anatasya pun memutuskan untuk bertanya kepada Ustadzah Halimah. Karena Anatasya sangat bersemangat, ia pun tidak menunda-nunda niatan baiknya itu dan langsung pergi ke rumahnya Ustadzah Halimah tanpa memikirkan waktu.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 18.15 WIB, Anatasya pun pergi ke rumah Ustadzah Halimah. Saat sudah sampai di sana, pembantu Ustadzah berkata kalau ustadzah masih di masjid dan belum pulang. Setelah mendengar jawaban pembantu itu. Tanpa berfikir panjang Anatasya langsung menuju ke masjid. Karena terlalu lama tidak pernah memasuki masjid membuat Anatasya merasa kebingungan harus berbuat apa ketika memasuki masjid. Karena melihat ada seorang wanita yang kebingungan ingin memasuki masjid, Ustadzah Halimah pun menghampiri wanita itu dan bertanya ada keperluannya apa. 
Anatasya pun menceritakan apa tujuannya menemui Ustadzah Halimah. Ia bercerita banyak hal tentang hidupnya kepada Ustadzah. Dan sekarang Anatasya ingin sekali berhijrah untuk mencari kedamaian, dan ketenangan hati serta hidupnya. Tetapi Anatasya tidak tahu caranya bagaimana. Dan Anatasya merasa dirinya terlalu hina menghadap Allah SWT karena ia telah banyak berbuat dosa.
Kemudian Ustadzah Halimah menerangkan ayat suci Al-Quran surat Al Baqarah: 218
Yang insyaallah artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah SWT, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah SWT. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”, ujar Ustadzah Halimah.
“Jadi, seburuk-buruknya tindakan manusia yang terdahulu jika dia bersungguh-sungguh untuk berubah menjadi yang lebih baik dan berniatan untuk berhijrah di jalan Allah dengan cara bertobat nasuhalah yaitu tidak akan mengulangi perbuatan tercelanya lagi. Insyaallah, Allah akan menghapus dosa-dosannya yang terdahulu. Jadi, Apakah kamu sudah mantap dengan keputusanmu?. Apakah kamu terpaksa atau dipaksa seseorang atas keputusanmu itu untuk berhijrah di jalan Allah SWT, Anatasya?”, kata ustadzah.
            “Insyaallah saya sudah mantap atas keputusanku untuk berhijrah di jalan Allah SWT, Ustadzah. Dan keputusan ku itu atas kemauan hati nurani saya sendiri. Tidak ada paksaan dari siapapun, Ustadzah”, jawab Anatasya.
            Setelah itu Anatasya dibimbing Ustadzah Halimah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu menjelaskan kewajiban apa saja sebagai seorang muslim diantaranya shalat, puasa, baca Quran, sedekah/zakat, naik haji (bila mampu). Insyaallah dengan melakukan hal tersebut hati akan menjadi tentram. Tetapi Anatasya tidak bisa bagaimana cara shalat dan baca Quran. Mendengar kalau Anatasya belum mengetahui tata cara shalat, tanpa buang waktu Ustadzah langsung mengajari bagaimana tata cara shalat dan baca Quran. Sebelum shalat Anatasya harus terlebih dahulu wudhu. Setelah itu Anatasya bisa menunaikan shalat.
            Setelah belajar shalat, Adzan untuk menunaikan shalat isya’ pun berkumandang. Anatasya pun menunaikan shalat isya’ secara berjamaah. Setelah menunaikan shalat isya, Ustadzah Halimah memohon minta maaf kepada Anatasya karena tidak bisa mengajari baca Quran malam ini dikarenakan ada acara mendadak. Ustadzah berpesan untuk sesering mungkin berkunjung di rumah Ustadzah untuk belajar mengaji. Sebelum Ustadzah berpamitan, beliau berpesan agar Anatasya sebagai wanita harus menutupi auratnya dan mengenakan jilbab. Karena dengan mengenakan baju yang menutupi aurat dan mengenakan jilbab selain mempertambah cantik seorang wanita tapi juga akan menjaga keselamatan para wanita dari marabahaya demi menjaga kehormatannya. Saran dari Beliau diterima dengan senang hati oleh Anatasya. Sebagai hadiah Ustadzah memberikan sebuah jilbab untuk Anatasya. Betapa bahagiannya Antasya diberikan jilbab oleh Ustadzah. Setelah jilbab itu diterima Anatasya, Ustadzah pun pamit untuk pulang.
Anatasya pulang dengan hati gembira, dengan segera Anatasya mencoba jilbab pemberian dari Ustadzah di depan cermin. Betapa cantiknya Anatasya ketika memakai jilbab itu. Entah mengapa Anatasya langsung jatuh hati kepada jilbab dan berkomitmen akan terus memakainya hingga akhir hayatnya. Keesokan harinya dengan percaya diri Anatasya mengenakan baju yang menutupi auratnya dan hijab yang menutupi rambut dan dadanya lalu berjalan keluar menuju rumah Ustadzah Halimah untuk mengkaji ilmu-ilmu agama Allah SWT. Anatasya sangat siap untuk belajar.
Saat di tengah jalan, Anatasya bertemu dengan teman-teman copetnya, setelah melihat perubahan Anatasya mereka pun tertawa terbahak-bahak dan megejek Anatasya tidak pantas memakai itu semua. Lalu mengajak Anatasya untuk kembali ke jalan sesat lagi yaitu mencopet lagi. Tapi Anatasya tidak melanggapinya dan langsung berjalan kembali. Setelah itu Anatasya bertemu dengan Raka di tengah jalan. Betapa terkejutnya Raka melihat perubahan baru Anatasya dan langsung terpesona pada pandangan pertama seakan Raka telah jatuh hati kepada Anatasya.
“Subhanallah, kamu cantik sekali dengan jilbab itu Anatasya yang telah menyihir aku menjadi terpesona dengan kecantikan dirimu. Seakan membuat aku jatuh hati kepadamu”, kata Raka.
“Apa yang kamu bilang Raka?”, Tanya Anatasya.
“Oh bukan apa-apa kok. Hanya saja kamu cantik dengan baju dan jilbabmu itu”, kata Raka. Lalu Anatasya pun hanya tersenyum bahagia.
“Oh iya kamu mau pergi ke mana?”, Tanya Raka.
“Aku mau ke rumah Ustadzah Halimah untuk belajar mengaji?”, kata Anatasya.
“Bolehkah aku ikut juga belajar mengaji”, Tanya Raka.
“Alhamdulillah, Pastilah boleh. Ayo kita berangkat bersama-sama ke sana”, ajak Anatasya.
Mereka pun pergi ke rumah Ustadzah Halimah bersama-sama. Anatasya dan Raka sangat rajin dan bersemangat tinggi mengkaji agama islam. Ketika setiap akan memulai kegiatan belajar mengajar agama islam Ustadz Masyur suami Ustadzah Halimah menyarankan agar mereka berdua tidak saling berdekatan dan mengetahui jaraknya masing-masing karena mereka belum muhrim. Mereka dididik langsung oleh Ustadz Mansyur dan Ustadzah Halimah secara intensif hingga mereka benar-benar menjadi hamba Allah SWT yang selalu taat kepada Allah SWT. Semakin hari tingkat keimanan mereka berdua semakin meningkat tajam. Kewajiban seorang muslim seperti Shalat, baca Quran, sedekah tak pernah mereka tinggalkan sedikitpun. Tak jarang pula mereka menunaikan ibadah puasa senin kamis dengan penuh antusias. Hal tersebut membuat Ustadzah Halimah dan Ustadz Mansyur merasa bangga akan kegigihan mereka berdua dalam belajar memperdalam ilmu agama Allah SWT.
Menurut Raka selain ilmu agamanya yang meningkat, ternyata benih-benih cinta kepada Anatasya pun berkembang di hati Raka semakin besar sehingga tak tahan rasanya untuk dipendam terus menerus. Raka tidak menginginkan dirinya berbuat zina, maka Raka tak sungkan meminta saran kepada Ustadz Mansyur apa yang harus ia lakukan.
“Untuk menyempurnakan akhlak manusia maka setiap manusia di wajibkan untuk menikah dengan pasangan yang ia cintai bila ia sudah mampu. Dan saya rasa kamu sudah mampu untuk menunaikan pernikahan. Jika kamu memang benar-benar sangat mencintai Anatasya maka nikahilah Anatasya segera mungkin sesuai dengan syariat islam. Jangan sampai Anatasya di ambil orang lain”, saran Ustadz.
“Kalau itu yang harus aku lakukan maka akan aku lakukan saran Ustadz. Karena Aku sangat mencintai Anatasya. Dan tak akan ku biarkan Antasya di ambil orang lain. Karena hanya Anatasyalah yang akan ku persunting menjadi istriku satu-satunya. Kalau begitu saya minta doa restunya Ustadz semoga kami akan menjadi keluarga yang sakinah, mawardah dan warahmah”, kata Raka.
“Amin. Oh iya, masalah biaya pernikahan kamu jangan kuatir itu. Biar semua ditanggung oleh saya”, jawab Ustadz.
“Terimakasih banyak Pak Ustadz. Semoga kebaikan pak Ustadz ini dibalas oleh Allah SWT”, kata Raka.
“Amin”, jawab Ustadz
Tanpa menunggu waktu yang lama, keesokan harinya Raka melamar Anatasya menjadi istrinya. Betapa terkejut Anatasya karena dilamar Raka tiba-tiba. Tetapi sebenarnya Anatasya juga telah memiliki perasaan yang sama terhadap Raka kalau dia juga sangat mencintai Raka. Dengan tanpa basa-basi Antasya menerima lamaran Raka. Betapa bahagianya Raka mendengar jawaban Anatasya. Tanpa menunda-nunda niat yang mulia itu, mereka pun mempercepat waktu pernikahannya. Tak terasa waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Acara akad nikahpun berjalan dengan hikmat dan syahdu. Dan sekarang Anatasya dan Raka sudah dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri sesuai dengan syariat islam.
Setelah berhasil memperistri Anatasya, Raka pun mecoba mencari pekerjaan yang halal dan berkah. Alhamdulillah Raka mendapatkan pekerjaan sebagai supir angkot walaupun penghasilannya tidak seberapa yang penting supir angkot adalah pekerjaan yang halal dan berkah yang insyaallah akan selalu di ridhai oleh Allah SWT. Walau seperti itu keadaannya, Anatasya tetap merasa bahagia menjadi istri Raka. Menurut mereka, setelah berhijrah di jalan Allah SWT, mereka berdua merasakan ada perbedaan pada hidup mereka. Kini hidup mereka seakan terasa lebih hidup, lebih berwarna, lebih berarti, lebih damai, tentram, nyaman dan tentunya lebih bahagia dibandingkan masa lalu mereka yang suram. Sehingga membuat mereka berkomitmen akan menjadi hamba Allah SWT yang selalu taat kepada Nya yang menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya.

**SELESAI**

Sekian dan terimakasih

7 komentar:

  1. Balasan
    1. Assalamualaikum wr. Wb ukhti Yurita. Terimakasih sudah berkunjung di blog saya. Semoga bermanfaat dan menghibur ya ukhπŸ˜„

      Hapus
  2. Balasan
    1. InsyaaAllah Chil πŸ˜„πŸ˜. Makasih ya chil udah berkunjung πŸ˜„

      Hapus
  3. Balasan
    1. Alhamdulillah nis kalau dirimu suka. Terimakasih udah membaca cerita q ya NisπŸ˜πŸ˜—

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus